Jumat, 26 Agustus 2011

MERUNTUHKAN KOLOTISME; UPAYA MENATAP MASA DEPAN PESANTREN

Di Abad 21 yang dikenal dengan abad tekhnologi dan informasi menuntut banyak orang untuk berfikir tepat dan kritis. Hal itu terbukti dengan menjamurnya tekhnologi dan informasi yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Hal itu tidak hanya menggurita dalam kehidupan perkotaan melainkan tekhnologi dan informasi telah merambat kedaerah pedesaan bahkan kesebuah lembaga pendidikan islam yaitu pesantren.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis agama dan sampai saat ini eksistensi pesantren masih diperhitungkan oleh kebanyakan masyarakat karna pesantren sudah banyak andil dalam membangun bangsa dan negara seutuhnya baik dari segi intelektual, emosional, dan spiritual. Selain itu pesantren sudah banyak berjasa terhadap negara kita tercinta karna termasuk dari orang-orang yang mengusir dari imperialisme dan kolonialisme adalah para kaum sarungan. Ketika sudah demikian, benarkah orang-orang yang berdomisili pesantren termasuk orang-orang konserfatif dan kolot?

Saat ini sudah banyak animo yang berkembang dimasyarakat khususnya masyarakat perkotaan yang notabene, materialisme dan konsumerisme menganggap dalam dua pemahaman, Pertama, masyarakat pesantren dipahami sebagai kelompok yang semata-mata belajar agama dan kitab-kitab klasik tanpa peduli dengan masalah sosial dan perkembangan dunia modern. Kedua, dunia santri dan pesantren divonis sebagai dunia yang tertutup dan penuh keterbatasan sehingga asumsi masyarakat non pesantren terhadap dunia pesantren menganggap konserfatif dan kaku.

Pesantren yang telah berjasa mencerdaskan anak bangsa bertahun-tahun lamanya, sekarang dipandang sebuah momok menakutkan. Banyak masyarakat sudah anti yang namanya pesantren. Padahal cibiran mereka tanpa sebuah alasan yang jelas dan masyarakat seakan-akan tidak sadar, sekarang bukan zamannya bertanya kerja apa dan dimana, karena dari data survei menyatakan bahwa ribuan sarjana dari berbagai jurusan menganggur, dan kiranya kita perlu menyimak keterangan Bapak Mendiknas M. Nuh “…Kita optomis Indonesia tidak akan kekurangan guru hingga 2015 karena jumlah PNS yang dimiliki pemerintah masih berlebihan ditandai dengan rasio jumlah murid dan guru yang masih relatif besar, yakni satu guru untuk 14 siswa sedangkan rasio yang ideal adalah satu guru untuk 20 siswa. Lalu apakah menjadi seorang guru berstatus PNS merupakan satu-satunya lahan subur yang masih tersisa di Indonesia? Ketika dunia akademis sudah sesuram itu prospeknya, kenapa pesantren yang masih disudutkan? ataukah sekarang eranya bertanya diterimakah kita kerja?

Untuk mengikis ketakutan akan pesantren, kiranya perlu diperjelas bahwa sebuah ilmu pengetahuan dalam islam sangat dijunjung tinggi. Anda bisa menyimak QS. Ali Imran: 18 “Allah menyatakan bahwasanya tiada tuhan melainkan dia (yang berhak disemba), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada tuhan melainkan dia (yang berhak disembah) yang maha perkasa lagi maha bijaksana.” Coba renungkan, betapa orang yang punya ilmu begitu mempunyai derajat tinggi hingga dituturkan setelah para malaikat.

Kemudian, apakah semua ilmu bisa mengantarkan kita untuk menggapai derajat itu? Dalam firman Allah QS. An-Nahl: “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” dalam ayat ini nampak jelas bahwa yang dimaksud orang-orang berilmu adalah mereka yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan Kitab-kitab, dalam kata lain adalah paham syari’at islam.

Dengan kenyataan dunia perekonomian seperti sekarang ini, tentu kita tidak pantas jika berasumsi ataupun memvonis terhadap dunia pesantren menganggap konserfatif dan prospek suram bagi lulusan pesantren. Oleh sebab itu kita tidak kuasa untuk memvonis suram ataukah terang hari esok. Kita hanya mampu berusaha dan usaha akang-akang santri di pesantren bukanlah hal yang sia-sia.

Terakhir, sampai kapanpun pesantren akan terus berguna bagi masyarakat sekitar. Buktinya sampai sekarang pesantren tetap eksis dan bertebaran diseluruh nusantara selain itu pesaantren berhasil mencetak output yang mempunyai integritas dan kapabilitas yang memadai. Mungkin karna prospek yang terlalu silau, membuat mata-mata biasa tidak sanggup melihatnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More