Kini angin sejuk tak pernah menghilir kembali kehidupan. Hanyalah terik matahari yang tak pernah henti menyengat. Daun-daun mulai menguning dan melepas diri menuju permukaan tanah kering yang kerontang. Permukaan tanah persawahan yang selalu basah kini meretak keras. Seperti halnya diriku. Hatiku memanas. Jiwaku terasa terbakar oleh bara api. Teramat sering terlintas dalam benakku untuk memberontak pada Tuhan. Namun apalah daya diri ini, terlalu lemah untuk memutar balikkan arus hidup. Aku pun telah tak kuat lagi menghadapi semua ini. Hidup dalam kecohan orang-orang. Meski aku telah mampu bersekolah di sekolah elit di kota, tetap saja aku tak pernah bisa tertetesi oleh kesejukan. Bahkan ini menjadi hal yang sangat merongrong kelamnya hatiku. Hampir setiap waktu kala aku bertemu dengan teman sekolahku, aku selalu diserang dengan bermacam-macam kecohan dan ejekan. Aku benar-benar tak kuat menghadapi ini semua. Hingga aku rela melakukan apa pun untuk lari dari olokan temanku. Aku rela. Sungguh aku rela. Mereka mengejekku sebab ibuku adalah penjajah gorengan di jalan kecamatan. Mereka bilang aku ndeso. Mereka mengolok aku anak miskin. Aku tak rela, benar-benar tak rela, walau itulah memang kenyataannya.
Di tengah amukan sang matahari yang menyengat, aku tak berani sesekali pun untuk berkeluyuran menjelajahi jalanan. Aku hanya mampu merebahkan diri di beranda rumahku. Sejenak ku teringat pada ibuku. Di tengah sengatan terik, ia masih berada di warungnya di kecamatan. Namun bila aku diajak bertutur tentang seorang ibu, maka aku tak akan pernah memuji atau mengagungkan makhluk itu. Jujur, aku tak pernah percaya tentang semua mitos kepahlawanan seorang ibu. Aku tak pernah tunduk pada puisi tentang ibu. Itu benar-benar pujian yang berlebihan. Sangat berlebihan. Itu semua bagaikan mitos dalam hidupku. Dan ibulah tokoh dalam mitos yang sangat tinggi pengagungannya, namun terlalu berlebih. Bagaimana tidak, ibu yang orang puja-puji yang aku miliki tak pernah memberi waktu untukku. Ia tak pernah meluangkan hidupnya sejenak untuk diriku. Maka, inilah diriku. Yang hanya selalu bertelungkup dalam gubuk gedek dalam kesendirian. Ibu hanya bisa hinggap di rumah bila malam telah bisu. Dan menghilang kembali jika fajar mengintip bumi. Setiap hari seperti itu.
Dalam sekejap waktu, tanpa berpikir lama, kuangkat jasadku menuju kerumunan orang di jalanan kecamatan. Kutolehkan kepalaku ke kanan ke kiri. Sejenak, kuhentikan langah kakiku menuju seorang anak kecil berbaju compang-camping menjajakan setumpukan koran. Tanpa basa-basi lebih panjang, langsunglah ku utarakan maksud baikku pada anak kecil itu.
“Dek, sudah laku berapa koranmu?”
“Baru saja laku dua Mas, padahal sudah dari tadi pagi saya jajakan” ujarnya sembari memasang muka yang kusut nan melas.
“Ya sudah, Mas beli satu ya, ini uangnya, kembaliannya ambil kamu saja” langsunglah kusodorkan selembar uang kertas dua puluh ribuan pada anak kecil itu.
“Matur Nuhun Nggih Mas!”
Tanpa menghela napas panjang, langsung aku berlalu dari anak kecil itu. Sembari mengarahkan jalannya kaki ini menuju kembali ke rumahku. Untuk sekedar menghindar dari terik matahari yang semakin menyala. Dalam waktu yang tak terlalu lama, hiruk-pikuk di pusat kecamatan mulai memburam dari telingaku. Ku rebahkan tubuhku di atas kursi beranda rumahku. Sejenak kubaca koran yang kubeli tadi. Lembaran demi lembaran kutatapi perlahan. Namun, mataku terbelalak menyaksikan sebuah berita bahwa pedagang kaki lima pada siang hari ini akan digeledah dan diasingkan dari jalanan kecamatan untuk persiapan penilaian penghargaan adipura oleh satpol PP. Riangku bukan main. Terasa sebentar lagi aku akan merasakan kebahagiaan yang terdalam. Mungkin ini akan membuatku bebas dari ocehan teman-teman. Dan ibuku tak akan pernah lagi kembali berdagang gorengan di jalanan. Inilah yang selama ini kunantikan. Sedari dulu aku membujuk dan bahkan memaksa ibu untuk berhenti menjual gorengan di jalanan. Tapi ibu hanya diam tanpa banyak kata yang ia keluarkan. Seingat aku, ia hanya pernah berkata “Ini semua demi kebaikanmu Nak, Ibu ingin suatu saat nanti kamu bisa jadi orang sukses. Tak seperti Ibumu”. Namun tutur ibuku yang lemah lembut itu langsung kuenyahkan dari benakku.
Dengan tanpa berkhayal bahagia lebih panjang, langsung aku bawa sepeda motorku menuju jalan kecamatan kembali. Untuk menyaksikan takluknya ibuku pada satpol PP. Mungkin ini akan menjadi permainan yang sangat menakjubkan!
Kuletakkan sepeda motorku di tepi jalan kecamatan. Dan mataku langsung terpana pada satpol PP yang tengah menghampiri warung gorengan ibuku. “Ayo Pak, ayo! Cepat hancurkan warung itu!” Bisikku geram di kedalaman hati. Dan lihatlah! Ibuku lari terbirit-birit. Ia tak mau pasrah saja pada Satpol PP itu. Mereka saling berkejaran di sepanjang trotoar jalan. Dan, BRUUUKK. Ibuku terjatuh hingga terbaring di trotoar. DEG! Jantungku terasa berdetak sangat kencang. Baru kali ini aku merasa kekhawatiran yang sangat mendalam pada ibuku. Sejenak ia bangun dari kelemahannya. Kulihat dan kudekati dia. Hidungnya berdarah. Namun, satpol PP masih membawanya ke mobil pikap mereka. Ibuku bertutur padaku dengan sangat halus. Hingga menembus dinding hatiku.
“Nak, tolong Ibu, Maafkan Ibu bila punya banyak salah padamu Nak! Ibu sangat sayang padamu. Ibu ingin suatu saat nanti kamu jadi orang sukses. Tak seperti Ibu. Ibu mau lakukan apa saja untuk itu. Termasuk menjual gorengan ini Nak. Hampiri ibu Nak, Ibu sangat rindu memelukmu”
Hatiku kandas. Luluh lantak oleh tutur halusnya. Kini sosok seorang ibu serasa telah berubah menjadi seorang bidadari yang memang patut untuk dipuja-puji. Kuhampiri dan ku semakin mendekat pada ibu. Kuulurkan tanganku untuk mengusap airmata mutiaranya. Dan, tanpa terasa pula, airmataku menetes. Jiwaku merindukan kesejukan. “Aku juga sayang Ibu. Akulah yang semestinya memohon maaf pada Ibu atas semua kesalahanku Bu! Aku merindukan Ibu dari dulu”. Sreeeeeeeeeeeeeeeet! Langsung saja satpol PP itu menyeret ibuku ke dalam mobilnya. Tanpa menaruh rasa haru padaku dan Ibu. Ibu dan mobil pikap Satpol PP itu berlalu menjauhiku sedikit demi sedikit. Ibu membentangkan tangannya dan melambaikan padaku diiringi senyum manis dan airmatanya yang tak henti berlinang. Dan ia berteriak pelan menuju kearahku. “Ibu ingin kamu jadi orang sukses Nak! Ibu tak ingin kamu seperti Ibu. Aku mencintaimu Nak”. Hatiku pun kembali luluh dibuatnya. Linang airmataku rasanya tak ingin terjeda. “Airmata ini kupersembahkan untuk melunasi segala jasamu duhai sosok mitos yang teragung! Ku berjanji akan mewujudkan impianmu Ibu. Aku janji! Ibu, aku mencintaimu”.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah.
seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu kumembalas...
ibu...ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecilku...
SUMENEP, 040511
Di tengah amukan sang matahari yang menyengat, aku tak berani sesekali pun untuk berkeluyuran menjelajahi jalanan. Aku hanya mampu merebahkan diri di beranda rumahku. Sejenak ku teringat pada ibuku. Di tengah sengatan terik, ia masih berada di warungnya di kecamatan. Namun bila aku diajak bertutur tentang seorang ibu, maka aku tak akan pernah memuji atau mengagungkan makhluk itu. Jujur, aku tak pernah percaya tentang semua mitos kepahlawanan seorang ibu. Aku tak pernah tunduk pada puisi tentang ibu. Itu benar-benar pujian yang berlebihan. Sangat berlebihan. Itu semua bagaikan mitos dalam hidupku. Dan ibulah tokoh dalam mitos yang sangat tinggi pengagungannya, namun terlalu berlebih. Bagaimana tidak, ibu yang orang puja-puji yang aku miliki tak pernah memberi waktu untukku. Ia tak pernah meluangkan hidupnya sejenak untuk diriku. Maka, inilah diriku. Yang hanya selalu bertelungkup dalam gubuk gedek dalam kesendirian. Ibu hanya bisa hinggap di rumah bila malam telah bisu. Dan menghilang kembali jika fajar mengintip bumi. Setiap hari seperti itu.
Dalam sekejap waktu, tanpa berpikir lama, kuangkat jasadku menuju kerumunan orang di jalanan kecamatan. Kutolehkan kepalaku ke kanan ke kiri. Sejenak, kuhentikan langah kakiku menuju seorang anak kecil berbaju compang-camping menjajakan setumpukan koran. Tanpa basa-basi lebih panjang, langsunglah ku utarakan maksud baikku pada anak kecil itu.
“Dek, sudah laku berapa koranmu?”
“Baru saja laku dua Mas, padahal sudah dari tadi pagi saya jajakan” ujarnya sembari memasang muka yang kusut nan melas.
“Ya sudah, Mas beli satu ya, ini uangnya, kembaliannya ambil kamu saja” langsunglah kusodorkan selembar uang kertas dua puluh ribuan pada anak kecil itu.
“Matur Nuhun Nggih Mas!”
Tanpa menghela napas panjang, langsung aku berlalu dari anak kecil itu. Sembari mengarahkan jalannya kaki ini menuju kembali ke rumahku. Untuk sekedar menghindar dari terik matahari yang semakin menyala. Dalam waktu yang tak terlalu lama, hiruk-pikuk di pusat kecamatan mulai memburam dari telingaku. Ku rebahkan tubuhku di atas kursi beranda rumahku. Sejenak kubaca koran yang kubeli tadi. Lembaran demi lembaran kutatapi perlahan. Namun, mataku terbelalak menyaksikan sebuah berita bahwa pedagang kaki lima pada siang hari ini akan digeledah dan diasingkan dari jalanan kecamatan untuk persiapan penilaian penghargaan adipura oleh satpol PP. Riangku bukan main. Terasa sebentar lagi aku akan merasakan kebahagiaan yang terdalam. Mungkin ini akan membuatku bebas dari ocehan teman-teman. Dan ibuku tak akan pernah lagi kembali berdagang gorengan di jalanan. Inilah yang selama ini kunantikan. Sedari dulu aku membujuk dan bahkan memaksa ibu untuk berhenti menjual gorengan di jalanan. Tapi ibu hanya diam tanpa banyak kata yang ia keluarkan. Seingat aku, ia hanya pernah berkata “Ini semua demi kebaikanmu Nak, Ibu ingin suatu saat nanti kamu bisa jadi orang sukses. Tak seperti Ibumu”. Namun tutur ibuku yang lemah lembut itu langsung kuenyahkan dari benakku.
Dengan tanpa berkhayal bahagia lebih panjang, langsung aku bawa sepeda motorku menuju jalan kecamatan kembali. Untuk menyaksikan takluknya ibuku pada satpol PP. Mungkin ini akan menjadi permainan yang sangat menakjubkan!
Kuletakkan sepeda motorku di tepi jalan kecamatan. Dan mataku langsung terpana pada satpol PP yang tengah menghampiri warung gorengan ibuku. “Ayo Pak, ayo! Cepat hancurkan warung itu!” Bisikku geram di kedalaman hati. Dan lihatlah! Ibuku lari terbirit-birit. Ia tak mau pasrah saja pada Satpol PP itu. Mereka saling berkejaran di sepanjang trotoar jalan. Dan, BRUUUKK. Ibuku terjatuh hingga terbaring di trotoar. DEG! Jantungku terasa berdetak sangat kencang. Baru kali ini aku merasa kekhawatiran yang sangat mendalam pada ibuku. Sejenak ia bangun dari kelemahannya. Kulihat dan kudekati dia. Hidungnya berdarah. Namun, satpol PP masih membawanya ke mobil pikap mereka. Ibuku bertutur padaku dengan sangat halus. Hingga menembus dinding hatiku.
“Nak, tolong Ibu, Maafkan Ibu bila punya banyak salah padamu Nak! Ibu sangat sayang padamu. Ibu ingin suatu saat nanti kamu jadi orang sukses. Tak seperti Ibu. Ibu mau lakukan apa saja untuk itu. Termasuk menjual gorengan ini Nak. Hampiri ibu Nak, Ibu sangat rindu memelukmu”
Hatiku kandas. Luluh lantak oleh tutur halusnya. Kini sosok seorang ibu serasa telah berubah menjadi seorang bidadari yang memang patut untuk dipuja-puji. Kuhampiri dan ku semakin mendekat pada ibu. Kuulurkan tanganku untuk mengusap airmata mutiaranya. Dan, tanpa terasa pula, airmataku menetes. Jiwaku merindukan kesejukan. “Aku juga sayang Ibu. Akulah yang semestinya memohon maaf pada Ibu atas semua kesalahanku Bu! Aku merindukan Ibu dari dulu”. Sreeeeeeeeeeeeeeeet! Langsung saja satpol PP itu menyeret ibuku ke dalam mobilnya. Tanpa menaruh rasa haru padaku dan Ibu. Ibu dan mobil pikap Satpol PP itu berlalu menjauhiku sedikit demi sedikit. Ibu membentangkan tangannya dan melambaikan padaku diiringi senyum manis dan airmatanya yang tak henti berlinang. Dan ia berteriak pelan menuju kearahku. “Ibu ingin kamu jadi orang sukses Nak! Ibu tak ingin kamu seperti Ibu. Aku mencintaimu Nak”. Hatiku pun kembali luluh dibuatnya. Linang airmataku rasanya tak ingin terjeda. “Airmata ini kupersembahkan untuk melunasi segala jasamu duhai sosok mitos yang teragung! Ku berjanji akan mewujudkan impianmu Ibu. Aku janji! Ibu, aku mencintaimu”.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah.
seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu kumembalas...
ibu...ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecilku...
SUMENEP, 040511



0 komentar:
Posting Komentar