Saat ini memang telah terasa jelas yang namanya proses modernisasi Madura, karena telah tersedia jembatan yang menghubungkan kota Metropolis Surabaya dan Pulau Madura. Sehingga pada akhirnya akan tersalur budaya luar Madura ke dalam Pulau Madura dengan mudah. Dan budaya Madura sendiri pun sulit untuk dipertahankan di zaman yang modern ini, karena budaya luar pasti dapat mempengaruhi budaya yang ada, belum lagi tingkah aneh para remaja. Dan Akhirnya para seniman dan pemerintah pun berupaya untuk memaksimalkan kualitas budaya yang ada, agar budaya tersebut tidak memudar. Tetapi upaya tersebut rupanya tidak mudah untuk diterima seluruh kalangan, termasuk para ulama Madura, alasannya, karena dalam budaya tersebut masih terdapat penyimpangan dari agama Islam yang menjadi agama mayoritas rakyat Madura, seperti karapan sapi yang dinilai oleh para ulama budaya tersebut adalah budaya yang dapat menyakiti binatang, dan juga Ludruk yang dikatakan bahwa dalam suatu ceritanya, terdapat tokoh pria yang dirupai menjadi perempuan. Bahkan para ulama ada yang berpendapat budaya-budaya tersebut lebih baik dihapuskan saja. Inilah yang menjadi permasalahannya sekarang, kita akan pilih Penampakan performa Madura pada daerah luar, atau Budaya yang ada akan dihapus? Bila kita memilih penunjukan performa Madura pada turis lokal ataupun turis manca negara, apakah kita tidak malu bila budaya yang ada di Madura dipertanyakan mengapa bisa berlawanan dengan agama yang menjadi agama mayoritas di Madura? Jadi, bagaimana jika suatu saat rakyat Madura dikatakan plin plan dalam hal agama, apalagi agama tersebut adalah agama islam yang telah diyakini kebenarannya dan menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin. Selanjutnya, langkah yang bagaimana yang akan kita tempuh untuk mengenalkan Madura pada dunia luar? Apakah kita akan melestarikan Madura menjadi pulau Agamis, ataukah pulau yang kaya akan Kebudayaan? Mungkin para bupati dan wakil bupati yang ada di Madura dapat menjawabnya, karena merekalah yang dapat menentukan jalan kehidupan Madura ke depan, apalagi saat ini para bupati ataupun wakil bupati yang ada, hampir semuanya adalah para kiai yang kemudian menempuh jalan untuk memimpin kabupaten di Madura, jadi kita lebih mudah untuk menjawabnya, karena bupati itu pastinya lebih paham terhadap agama, karena mereka adalah seorang kiai, dan mereka juga dapat memahami kebudayaan yang ada karena mereka adalah seorang bupati yang harus tahu jalan hidup Madura ke depan. Dan pula kita sebagai rakyat Madura juga sepatutnya dapat menentukan jalan kehidupan Madura saat ini dan masa yang akan datang.
Pada awalnya saya berpikir bagaimana Madura bisa terkenal jika masih banyak kalangan yang tak sependapat dengan budaya yang dimiliki Madura, karena Madura ini adalah pulau yang kaya akan segalanya, kekayaan alam, kekayaan budaya, kekayaan adat keagamaan, kekayaan bahasanya dan masih banyak lainnya. Maka sepantasnya lah saat ini Madura menentukan jalan hidupnya untuk lebih maju, tetapi pada saat ini Madura berada dalam zona pertengahan, alias nangghung di antara keagamaan ataukah kebudayaan, karena Madura sendiri tidak mematok target kuat apakah akan menonjolkan tradisi keagamaannya, ataukah akan menunjukkan performa kekayaan budayanya pada dunia luar? Dan juga bisa dikatakan bahwa Madura hanya mematok target yang setengah-setengah, mana bisa lebih maju dalam waktu yang tidak lama, karena menurut pandangan saya, pertama-tama Madura harus memiliki satu keunggulan yang sangat tinggi kualitasnya, pada saat ini Madura memanglah memiliki banyak keunggulan, tetapi keunggulan itu diadu semua, jadi kapan Madura dapat membuktikan performanya 100%?



0 komentar:
Posting Komentar