Aku kira, hidup ini mengajakku untuk berbuai kasih pada dunia. Dunia yang tak pernah kuketahui ujung pangkalnya. Meski seukuran sebiji dzarrah pun aku tak memiliki pengetahuan tentang apa itu dunia. Namun aku sendiri hanya bisa bertapa untuk mencoba mensyukuri alam kehidupanku sendiri. Terdekap hangat dalam dekapan Sang Surya Batiniyyah. Bermain ria bersama tali temali ari. Bersenda gurau bersama kantung elastis yang dipenuhi butiran permata kepakan sayap malaikat. Malaikat yang selalu menari-nari gembira di hadap mataku. Yang tak pernah lelah memberikan rekahan senyum pada mataku yang selalu terpejam. Bahkan disetiap kali kulemparkan tubuhku, kecupan hangat menghanyutkanku ke dalam dunia cinta. Sebelum aku mengenal dunia, aku telah mengenal cinta. Bukan sebuah hasrat atau hawa’. Tapi inilah anugerah ilahiah. Terkadang mataku terbuka dalam waktu sekejap. Secepat mengukir sebuah titik hitam pada helaian kertas putih. Namun tetap saja aku tak mengerti akan dunia. Disetiap kali hembusan nafas kasih sayang meliliti jisimku, tak pernah sesekalipun aku mengerti akan dunia. Apa itu dunia? Aku ditakdirkan untuk hidup sendiri di sini. Tanpa ada seorangpun yang dapat menggenggam tanganku untuk mengajak bergurau sedetik pun. Aku tahu dan sadar bahwa lilitan ari inilah yang akan selalu menjamah tubuhku. Yang akan selalu temaniku dalam setiap kesendirianku. Terkadang aku menggila sendiri dalam lengkung kehidupanku ini. Bersyair dan menari sendiri. Mencoba menciptakan senyum kecil yang sangat jauh dari kesempurnaan. Aku harap pada suatu saat nanti, akan ada sesuatu yang dapat membuatku tersenyum lebih lebar daripada irama kecupan dari alam luar sana.
Aku ingin bertemu kembali dengan malaikat yang dulunya mengepalku hingga jatuh dalam hanyutan kehidupanku ini. Dalam hidupku tak pernah ada sang hari ataupun bulan. Semua gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku pikir aku tercipta untuk selalu hidup dalam kegelapan seperti ini. Yang aku sebut-sebut dengan kata “malam”. Dalam setiap tidur lamaku, selalu saja ada bisikan melodi indah nian lembut. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Tapi lihatlah padaku! Aku tak berdaya apa-apa mendengar lafadz itu. Telingaku tersumbat sebagaimana diperumpamakan bagai orang yang dipanggil dari tempat yang teramat jauh. Pun pula mataku yang tak kunjung sempurna melihat alam kehidupanku. Aku tak pernah faham atas ini semua. Telah kuanggap segalanya adalah sebagai hiburan dalam tidur panjangku. Terkadang pula aku mengira bahwa segala yang ada dalam alam hidupku hanyalah sebatas angin hampa yang tak pernah sesekali pun menyeret kebahagiaan untukku. Aku tak dapat merasakan segala apapun. Terkecuali satu. Kecupan mesra dari luar sana. Penuh cinta. Aku telah bersurat pada penciptaku, agar Ia memberikan anugerah teragung-Nya untuk sekedar aku cicipi manisnya. Dan, lihatlah! Penciptaku telah mengabulkan keinginanku.
Nafasku yang selama ini terhenyak, kini ada sesuatu yang tengah menghampiriku dengan sebuah zat yang aku sebut sebagai udara. Benar-benar terasa! Tapi lihatlah ini! Disekujur tubuhku yang dulunya terlapisi oleh bulu sayap malaikat kini memecah merubah menjadi liuran darah pekat! Lilitan indah yang selalu mengajakku bercumbu pun telah berpisah denganku untuk selamanya. Dan pasti, tak akan pernah kembali. Mataku yang selalu terpejam, kini telah dapat mengintip indahnya matahari. Sejenak aku membisu. Mencoba mendengarkan bisik dering berujar “Marhaban”. Suara yang teramat asing bagiku. Nada yang tak pernah kudengar sebelumnya. Ini bukanlah irama malaikat yang selalu berhembus di dekatku sebelum kutinggalkan ranah pra-hidupku yang kusebut sebagai “embrio”. Aku baru tahu bahwa mereka ini adalah “manusia”. Termasuk aku. Ya, aku manusia! Seperti itulah esensi dari sabda malaikat lain yang kini mengecup daun telingaku. Aku bertanya pada malaikatku, “Inikah dunia duhai Malaikat?”. Aku tak mendengar bisik apapun dalam telinga ini. Hingga sekian lama aku menantikannya, ada lafadz asing kembali terfirmankan. ”Dan tiada Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu”. Aku semakin faham akan dunia. Namun, setelah sekian lama telingaku dibisikkan oleh seorang manusia dengan adzan di telinga kananku dan iqamah di telinga kiriku, secara tiba- tiba, dan di luar dugaanku, aku merindui sebuah rangkulan penuh cinta. Yang selalu mengecup sekujur tubuhku dengan aroma kasih sayang. Fitrah manusia yang dimiliki setiap helai hati. Malaikat yang tak henti membangkitkan senyumanku. Belaian lembut dari alam luar. Lilitan ari-ari yang selalu menemani kegundahanku. Permata sayap malaikat yang selalu menaungiku. Pun pula melodi tilawah firman penciptaku yang selalu malaikat nyanyikan untukku. Aku sangat merindukannya. Sampaikanlah perasaanku ini pada mereka Tuhan! Aku tak akan pernah berhenti menangis hingga ada sesuatu yang dapat menggantikan mereka semua dalam dunia ini. Aku hanya ingin mengetahui siapakah yang selalu menghadirkan kehangatan kecupan mesra dari luar alam hidupku dulu? Dari duniaku yang kini. Aku ingin menemuinya dan membalas buaian ciuman hangatnya. Izinkanlah aku untuk sekedar membalas budi padanya Tuhan!
Ranah Kerinduan, 27032011
11.54
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
(Q.S: 23:13-14)
Aku ingin bertemu kembali dengan malaikat yang dulunya mengepalku hingga jatuh dalam hanyutan kehidupanku ini. Dalam hidupku tak pernah ada sang hari ataupun bulan. Semua gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku pikir aku tercipta untuk selalu hidup dalam kegelapan seperti ini. Yang aku sebut-sebut dengan kata “malam”. Dalam setiap tidur lamaku, selalu saja ada bisikan melodi indah nian lembut. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Tapi lihatlah padaku! Aku tak berdaya apa-apa mendengar lafadz itu. Telingaku tersumbat sebagaimana diperumpamakan bagai orang yang dipanggil dari tempat yang teramat jauh. Pun pula mataku yang tak kunjung sempurna melihat alam kehidupanku. Aku tak pernah faham atas ini semua. Telah kuanggap segalanya adalah sebagai hiburan dalam tidur panjangku. Terkadang pula aku mengira bahwa segala yang ada dalam alam hidupku hanyalah sebatas angin hampa yang tak pernah sesekali pun menyeret kebahagiaan untukku. Aku tak dapat merasakan segala apapun. Terkecuali satu. Kecupan mesra dari luar sana. Penuh cinta. Aku telah bersurat pada penciptaku, agar Ia memberikan anugerah teragung-Nya untuk sekedar aku cicipi manisnya. Dan, lihatlah! Penciptaku telah mengabulkan keinginanku.
Nafasku yang selama ini terhenyak, kini ada sesuatu yang tengah menghampiriku dengan sebuah zat yang aku sebut sebagai udara. Benar-benar terasa! Tapi lihatlah ini! Disekujur tubuhku yang dulunya terlapisi oleh bulu sayap malaikat kini memecah merubah menjadi liuran darah pekat! Lilitan indah yang selalu mengajakku bercumbu pun telah berpisah denganku untuk selamanya. Dan pasti, tak akan pernah kembali. Mataku yang selalu terpejam, kini telah dapat mengintip indahnya matahari. Sejenak aku membisu. Mencoba mendengarkan bisik dering berujar “Marhaban”. Suara yang teramat asing bagiku. Nada yang tak pernah kudengar sebelumnya. Ini bukanlah irama malaikat yang selalu berhembus di dekatku sebelum kutinggalkan ranah pra-hidupku yang kusebut sebagai “embrio”. Aku baru tahu bahwa mereka ini adalah “manusia”. Termasuk aku. Ya, aku manusia! Seperti itulah esensi dari sabda malaikat lain yang kini mengecup daun telingaku. Aku bertanya pada malaikatku, “Inikah dunia duhai Malaikat?”. Aku tak mendengar bisik apapun dalam telinga ini. Hingga sekian lama aku menantikannya, ada lafadz asing kembali terfirmankan. ”Dan tiada Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu”. Aku semakin faham akan dunia. Namun, setelah sekian lama telingaku dibisikkan oleh seorang manusia dengan adzan di telinga kananku dan iqamah di telinga kiriku, secara tiba- tiba, dan di luar dugaanku, aku merindui sebuah rangkulan penuh cinta. Yang selalu mengecup sekujur tubuhku dengan aroma kasih sayang. Fitrah manusia yang dimiliki setiap helai hati. Malaikat yang tak henti membangkitkan senyumanku. Belaian lembut dari alam luar. Lilitan ari-ari yang selalu menemani kegundahanku. Permata sayap malaikat yang selalu menaungiku. Pun pula melodi tilawah firman penciptaku yang selalu malaikat nyanyikan untukku. Aku sangat merindukannya. Sampaikanlah perasaanku ini pada mereka Tuhan! Aku tak akan pernah berhenti menangis hingga ada sesuatu yang dapat menggantikan mereka semua dalam dunia ini. Aku hanya ingin mengetahui siapakah yang selalu menghadirkan kehangatan kecupan mesra dari luar alam hidupku dulu? Dari duniaku yang kini. Aku ingin menemuinya dan membalas buaian ciuman hangatnya. Izinkanlah aku untuk sekedar membalas budi padanya Tuhan!
Ranah Kerinduan, 27032011
11.54
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
(Q.S: 23:13-14)



0 komentar:
Posting Komentar