This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Kamis, 26 Januari 2012
“EMBRIO” Cerpen Zaimil Alivin
Aku ingin bertemu kembali dengan malaikat yang dulunya mengepalku hingga jatuh dalam hanyutan kehidupanku ini. Dalam hidupku tak pernah ada sang hari ataupun bulan. Semua gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku pikir aku tercipta untuk selalu hidup dalam kegelapan seperti ini. Yang aku sebut-sebut dengan kata “malam”. Dalam setiap tidur lamaku, selalu saja ada bisikan melodi indah nian lembut. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Tapi lihatlah padaku! Aku tak berdaya apa-apa mendengar lafadz itu. Telingaku tersumbat sebagaimana diperumpamakan bagai orang yang dipanggil dari tempat yang teramat jauh. Pun pula mataku yang tak kunjung sempurna melihat alam kehidupanku. Aku tak pernah faham atas ini semua. Telah kuanggap segalanya adalah sebagai hiburan dalam tidur panjangku. Terkadang pula aku mengira bahwa segala yang ada dalam alam hidupku hanyalah sebatas angin hampa yang tak pernah sesekali pun menyeret kebahagiaan untukku. Aku tak dapat merasakan segala apapun. Terkecuali satu. Kecupan mesra dari luar sana. Penuh cinta. Aku telah bersurat pada penciptaku, agar Ia memberikan anugerah teragung-Nya untuk sekedar aku cicipi manisnya. Dan, lihatlah! Penciptaku telah mengabulkan keinginanku.
Nafasku yang selama ini terhenyak, kini ada sesuatu yang tengah menghampiriku dengan sebuah zat yang aku sebut sebagai udara. Benar-benar terasa! Tapi lihatlah ini! Disekujur tubuhku yang dulunya terlapisi oleh bulu sayap malaikat kini memecah merubah menjadi liuran darah pekat! Lilitan indah yang selalu mengajakku bercumbu pun telah berpisah denganku untuk selamanya. Dan pasti, tak akan pernah kembali. Mataku yang selalu terpejam, kini telah dapat mengintip indahnya matahari. Sejenak aku membisu. Mencoba mendengarkan bisik dering berujar “Marhaban”. Suara yang teramat asing bagiku. Nada yang tak pernah kudengar sebelumnya. Ini bukanlah irama malaikat yang selalu berhembus di dekatku sebelum kutinggalkan ranah pra-hidupku yang kusebut sebagai “embrio”. Aku baru tahu bahwa mereka ini adalah “manusia”. Termasuk aku. Ya, aku manusia! Seperti itulah esensi dari sabda malaikat lain yang kini mengecup daun telingaku. Aku bertanya pada malaikatku, “Inikah dunia duhai Malaikat?”. Aku tak mendengar bisik apapun dalam telinga ini. Hingga sekian lama aku menantikannya, ada lafadz asing kembali terfirmankan. ”Dan tiada Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu”. Aku semakin faham akan dunia. Namun, setelah sekian lama telingaku dibisikkan oleh seorang manusia dengan adzan di telinga kananku dan iqamah di telinga kiriku, secara tiba- tiba, dan di luar dugaanku, aku merindui sebuah rangkulan penuh cinta. Yang selalu mengecup sekujur tubuhku dengan aroma kasih sayang. Fitrah manusia yang dimiliki setiap helai hati. Malaikat yang tak henti membangkitkan senyumanku. Belaian lembut dari alam luar. Lilitan ari-ari yang selalu menemani kegundahanku. Permata sayap malaikat yang selalu menaungiku. Pun pula melodi tilawah firman penciptaku yang selalu malaikat nyanyikan untukku. Aku sangat merindukannya. Sampaikanlah perasaanku ini pada mereka Tuhan! Aku tak akan pernah berhenti menangis hingga ada sesuatu yang dapat menggantikan mereka semua dalam dunia ini. Aku hanya ingin mengetahui siapakah yang selalu menghadirkan kehangatan kecupan mesra dari luar alam hidupku dulu? Dari duniaku yang kini. Aku ingin menemuinya dan membalas buaian ciuman hangatnya. Izinkanlah aku untuk sekedar membalas budi padanya Tuhan!
Ranah Kerinduan, 27032011
11.54
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
(Q.S: 23:13-14)
“SOSOK DALAM MITOS” Cerpen Zaimil Alivin
Di tengah amukan sang matahari yang menyengat, aku tak berani sesekali pun untuk berkeluyuran menjelajahi jalanan. Aku hanya mampu merebahkan diri di beranda rumahku. Sejenak ku teringat pada ibuku. Di tengah sengatan terik, ia masih berada di warungnya di kecamatan. Namun bila aku diajak bertutur tentang seorang ibu, maka aku tak akan pernah memuji atau mengagungkan makhluk itu. Jujur, aku tak pernah percaya tentang semua mitos kepahlawanan seorang ibu. Aku tak pernah tunduk pada puisi tentang ibu. Itu benar-benar pujian yang berlebihan. Sangat berlebihan. Itu semua bagaikan mitos dalam hidupku. Dan ibulah tokoh dalam mitos yang sangat tinggi pengagungannya, namun terlalu berlebih. Bagaimana tidak, ibu yang orang puja-puji yang aku miliki tak pernah memberi waktu untukku. Ia tak pernah meluangkan hidupnya sejenak untuk diriku. Maka, inilah diriku. Yang hanya selalu bertelungkup dalam gubuk gedek dalam kesendirian. Ibu hanya bisa hinggap di rumah bila malam telah bisu. Dan menghilang kembali jika fajar mengintip bumi. Setiap hari seperti itu.
Dalam sekejap waktu, tanpa berpikir lama, kuangkat jasadku menuju kerumunan orang di jalanan kecamatan. Kutolehkan kepalaku ke kanan ke kiri. Sejenak, kuhentikan langah kakiku menuju seorang anak kecil berbaju compang-camping menjajakan setumpukan koran. Tanpa basa-basi lebih panjang, langsunglah ku utarakan maksud baikku pada anak kecil itu.
“Dek, sudah laku berapa koranmu?”
“Baru saja laku dua Mas, padahal sudah dari tadi pagi saya jajakan” ujarnya sembari memasang muka yang kusut nan melas.
“Ya sudah, Mas beli satu ya, ini uangnya, kembaliannya ambil kamu saja” langsunglah kusodorkan selembar uang kertas dua puluh ribuan pada anak kecil itu.
“Matur Nuhun Nggih Mas!”
Tanpa menghela napas panjang, langsung aku berlalu dari anak kecil itu. Sembari mengarahkan jalannya kaki ini menuju kembali ke rumahku. Untuk sekedar menghindar dari terik matahari yang semakin menyala. Dalam waktu yang tak terlalu lama, hiruk-pikuk di pusat kecamatan mulai memburam dari telingaku. Ku rebahkan tubuhku di atas kursi beranda rumahku. Sejenak kubaca koran yang kubeli tadi. Lembaran demi lembaran kutatapi perlahan. Namun, mataku terbelalak menyaksikan sebuah berita bahwa pedagang kaki lima pada siang hari ini akan digeledah dan diasingkan dari jalanan kecamatan untuk persiapan penilaian penghargaan adipura oleh satpol PP. Riangku bukan main. Terasa sebentar lagi aku akan merasakan kebahagiaan yang terdalam. Mungkin ini akan membuatku bebas dari ocehan teman-teman. Dan ibuku tak akan pernah lagi kembali berdagang gorengan di jalanan. Inilah yang selama ini kunantikan. Sedari dulu aku membujuk dan bahkan memaksa ibu untuk berhenti menjual gorengan di jalanan. Tapi ibu hanya diam tanpa banyak kata yang ia keluarkan. Seingat aku, ia hanya pernah berkata “Ini semua demi kebaikanmu Nak, Ibu ingin suatu saat nanti kamu bisa jadi orang sukses. Tak seperti Ibumu”. Namun tutur ibuku yang lemah lembut itu langsung kuenyahkan dari benakku.
Dengan tanpa berkhayal bahagia lebih panjang, langsung aku bawa sepeda motorku menuju jalan kecamatan kembali. Untuk menyaksikan takluknya ibuku pada satpol PP. Mungkin ini akan menjadi permainan yang sangat menakjubkan!
Kuletakkan sepeda motorku di tepi jalan kecamatan. Dan mataku langsung terpana pada satpol PP yang tengah menghampiri warung gorengan ibuku. “Ayo Pak, ayo! Cepat hancurkan warung itu!” Bisikku geram di kedalaman hati. Dan lihatlah! Ibuku lari terbirit-birit. Ia tak mau pasrah saja pada Satpol PP itu. Mereka saling berkejaran di sepanjang trotoar jalan. Dan, BRUUUKK. Ibuku terjatuh hingga terbaring di trotoar. DEG! Jantungku terasa berdetak sangat kencang. Baru kali ini aku merasa kekhawatiran yang sangat mendalam pada ibuku. Sejenak ia bangun dari kelemahannya. Kulihat dan kudekati dia. Hidungnya berdarah. Namun, satpol PP masih membawanya ke mobil pikap mereka. Ibuku bertutur padaku dengan sangat halus. Hingga menembus dinding hatiku.
“Nak, tolong Ibu, Maafkan Ibu bila punya banyak salah padamu Nak! Ibu sangat sayang padamu. Ibu ingin suatu saat nanti kamu jadi orang sukses. Tak seperti Ibu. Ibu mau lakukan apa saja untuk itu. Termasuk menjual gorengan ini Nak. Hampiri ibu Nak, Ibu sangat rindu memelukmu”
Hatiku kandas. Luluh lantak oleh tutur halusnya. Kini sosok seorang ibu serasa telah berubah menjadi seorang bidadari yang memang patut untuk dipuja-puji. Kuhampiri dan ku semakin mendekat pada ibu. Kuulurkan tanganku untuk mengusap airmata mutiaranya. Dan, tanpa terasa pula, airmataku menetes. Jiwaku merindukan kesejukan. “Aku juga sayang Ibu. Akulah yang semestinya memohon maaf pada Ibu atas semua kesalahanku Bu! Aku merindukan Ibu dari dulu”. Sreeeeeeeeeeeeeeeet! Langsung saja satpol PP itu menyeret ibuku ke dalam mobilnya. Tanpa menaruh rasa haru padaku dan Ibu. Ibu dan mobil pikap Satpol PP itu berlalu menjauhiku sedikit demi sedikit. Ibu membentangkan tangannya dan melambaikan padaku diiringi senyum manis dan airmatanya yang tak henti berlinang. Dan ia berteriak pelan menuju kearahku. “Ibu ingin kamu jadi orang sukses Nak! Ibu tak ingin kamu seperti Ibu. Aku mencintaimu Nak”. Hatiku pun kembali luluh dibuatnya. Linang airmataku rasanya tak ingin terjeda. “Airmata ini kupersembahkan untuk melunasi segala jasamu duhai sosok mitos yang teragung! Ku berjanji akan mewujudkan impianmu Ibu. Aku janji! Ibu, aku mencintaimu”.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah.
seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu kumembalas...
ibu...ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecilku...
SUMENEP, 040511
Rabu, 25 Januari 2012
Mamahku Ingin Seperti Rabi’ah Cerpen Zaimil Alivin
“Al, ayo bangun Nak, ambil wudhu’ terus sholat jamaah ke masjid Le! Kamu udah gede Le, masa masih dibangunin Mamah. Yo masa anak lanang Mamah kalah sama adik perempuannya, ndak malu tho? Bangun cepat, ntar subuhnya dipatuk ayam loh!”
Aku terdiam membisu, tak menjawab tutur halus mamah dengan sepatah katapun. Tanpa aku sadari, kalam mamah ternyata mampu menggatuk kepala syetan- syetan yang mengelilingiku sendari tadi. Tanpa menghela napas, langsung aku robek selimut yang memelukku tadi. Aku sandarkan sejenak tubuhku di dinding kasur sembari berkomat- kamit berucap “Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da ma amaatana wa ilayhinnusyuur”. Mataku pun aku arahkan pada asal datangnya suara tadi, ujung mataku tertuju pada mamah yang terbalut mukena putih masih menatapku di balik pintu kamar. Selang beberapa menit, mamah takluk oleh tatapanku. Batang hidung Mamah menghilang dari kamarku. Langsung saja aku angkat jasadku dan ku kendalikan menuju kamar kecil di samping kamar tidurku. Bukannya aku tahan akan suhu bawah, aku juga terasa dipenggal dan ditiup udara dingin sang dini, bahkan remote AC di kamar tidurku masih mengeluarkan angka 17 derajat. Suhu terendah dari AC kamarku. Satu kalimat dariku, “dingin bukan main”. Namun biasa, namanya juga syetan yang ingin mengganggu manusia untuk berpaling pada-Nya. Jujur aku tak kuat menikmati ini semua, namun aku harus kuat, “DEMI CINTA”. Usai aku memandikan beberapa bagian tubuhku dengan basuhan wudhu’, sejenak ku langkahkan kaki ke luar kamar. Mataku terkejut memandang mamah dan adik perempuanku, Ayna sudah bercumbu dengan Sang Pemilik Kehidupan sendari tadi rupanya. Keduanya sedang merebah dalam Pangkuan-Nya dengan kepala tertunduk, tetes mata bercucuran, beserta lantunan kalimatullah yang mengharap basuhan maaf-Nya. Walau sekejap aku juga sempat bermuhasabah merasa malu pada Penciptaku. Ayna saja yang lebih muda dariku, dan bahkan ia adalah seorang wanita lebih mampu menenggelamkan tantangan malam dan syetan yang hina, sementara aku “nol”. Renungan otakku akhirnya ku buang seketika Ayna membalas tatapanku dengan tolehan kepala bulatnya. Sesaat lisan Ayna berbisik pada mamah dengan gemericik pelan, dan aku pun dapat mendengarnya. “Mam, Kak Al udah siap tuh”. Mendengar bisikan Ayna tadi, aku pun kembali menuju kamarku untuk membulatkan kopiah dan mejatuhkan sajadah di atas pundakku. “Mam, Na, Kak Al tunggu di depan ya!”.
* * *
Usai sudah ku tunaikan sholat subuh di masjid komplek perumahanku dengan berjamaah. Sang fajar shodiq mulai mengintip bumi, bayangan telah mulai menerang, hembusan udara mulai sedikit menghangat. Tanpa pikir panjang, langsung ku tanamkan niat dalam hati untuk sejenak mendirikan Sholat Isyroq. Mamahlah yang mengajariku untuk istiqomah melakukan sholat dua rokaat setelah fajar terbit ini. Kata mamah, para sufi menjadikan sholat- sholat sunnah sebagai hiasan hidupnya, karena sangat tidak mungkin jika manusia hanya bermodal sholat dan ibadah wajib saja tanpa amalan sunnah untuk menikmati sorga firdaus. Dan sholat thulu’issyams ini adalah salah satu yang ditempuh para sufi, Hataa idza syamsun badat karomayhina, shollal-isyroqi wa qur’anun talaa, begitulah penuturan Sayyid Abu Bakr Syathaa dalam kitab tasawuf polesannya, Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’. Mamah juga pernah berkata padaku tentang hadits Rosululloh, jika sholat jama’ah subuh dan tetap bermunajat dengan Allah hingga fajar terbit, maka pahalanya setara dengan haji dan umroh. Subhanalloh, entah apakah orang- orang tahu-menahu tentang hal ini, haji dan umroh bisa dilakukan dalam sehari, belum lagi pahala sholat khusyu’nya. Sekali dayung dua pulau dilalui. Banyak orang yang tak terwujud hajatnya untuk naik haji karena tak mampu ini itu, namun kenapa masjid atau musholla di setiap subuh hingga fajar terbit hanya beberapa butir manusia saja, entahlah. Jam gede masjid komplek perumahan yang katanya diekspor dari Jerman berdenting enam kali, aku teringat pada mamah dan Ayna di rumah, langsung saja ku tarik hamparan sajadahku, dan ku tuju rumahku di lorong H 188. Rumah- rumah di komplek perumahan masih menutup pintu, tak berani menyapa sang hari Sabtu, tapi langsung saja aku membuka pintu rumah nomor 188.
Mataku tersenyum bahagia, mamah dan Ayna rupanya sedang menungguku di ruang makan.
“Al, ini Mamah masak opor kesukaanmu, spesial!” goda Mamah.
“Fuiih Mam, Dahsyat! bener nih Mamah yang masak?” sindirku.
“Iya lah Al, Bi Sun suruh turun tangan sama mamah, masakan mamah ini spesial untuk anak mamah yang baru datang menempuh ilmu”.
“Siip, khusus untuk sarjana ekonomi UGM” ketus Ayna. Tawa kecilku ku luapkan mendengar ocehan Ayna.
“Ada- ada saja kamu Na! Yowes kamu berangkat sekolah sana Kak Al mau makan dulu ya!” ujarku.
Lidahku bergetar mencicipi masakan mamah yang ku rindukan sejak di Jogja dulu, canda tawa Ayna juga, begitupun Bi Sun dan Bi Irah yang selalu melayani keluargaku dalam hal apapun. Tak lupa juga Pak Slamet yang selalu mengantarkan keluargaku kemana pun yang kami kehendaki. Sejenak hatiku mendesah, “Aah, ternyata keluargaku terlalu manja, pengen ini ada, pengen itu ada, ga seperti Rosululloh yang selalu dalam kemelaratan”. Usaiku menyantap habis opor buatan mamah, mamah melontarkan pertanyaan padaku.
“Gimana Al enak?”
“Siiip, ini yang Al rindukan di selama Jogja Mah” ucapku beriring senyum kecil.
“Di Jogja khan pasti ada yang jual Al”
“Yang jual sih banyak Mam, tapi tak setara dengan bikinan Mamah, sweeerrrr deh Mam!”
Sehabis ku bercanda ria bersama mamah, mamah melanjutkan episode kebersamaanku dengan cerita- cerita keindahan jiwa waliyatun Sayyidah Robi’ah Al- Adawiyah Al- Bashriah dengan panjang lebar, mamahku sangat mengidamkan sesosok anak hawa yang tenggelam bahagia dalam Mahabbah Ilahiah itu, bahkan sangat sering pendengaranku menangkap hembusan tutur kata ucapan mamah yang disertai senyum kecil khayalan, “Mamah pengen banget kayak Robiah yang bisa mencintai Allah sepenuhnya dan tak menghiraukan dunia sedikitpun Al, bahkan Robiah tak bersuami, dia tak mau membagi cintanya sedikitpun dengan selain Allah Al, Mamah pengen deh Al kayak Robiah”. Dalam sekejap, sunggingan bibirku memudar, menatap mata mamah meredup, meneteskan airmata, entah ada apa dengan mamah kenapa tiba- tiba terjatuh dalam kesedihan. Sungguh aku tak rela melihat tetes matanya mengalir. Aku ulurkan tanganku, dan kuraih pipi mamah, kuusap airmatanya, sambil kuhirup aroma ubun- ubunnya yang sewangi hajar aswad. Ku pandangi kuat seluruh sisi muka mamah, uban- uban di ujung jidatnya mengikatnya kuat, di sekitar bulatan matanya memerah, kulit- kulitnya mengeriput, cahaya cantiknya mulai meredup. Tetapi tetap saja memiliki bias cahaya yang dapat menaklukkan medan hatiku. Aku pun tetap mencintainya, karena inilah cinta sebenarnya, cinta yang abadi setelah cinta-Nya dan cinta Rosul-Nya. Perasaan sayang yang tak mempunyai alasan adalah cinta yang sebenarnya, tak perduli cantik, kaya, bertalenta atau apapunlah, seperti cintaku pada wanita termulia yang ku miliki, “Mam, aku mencintaimu” desahku dalam hati.
“Mam, kenapa nangis?” tanyaku pelan.
“Mamah sebenarnya kangen banget sama Babahmu, tapi Mamah pengen kayak Rabiah yang hanya bercengkrama dengan Allah, dan tak sesekali merindukan selain-Nya Al”, masih itu saja rupanya yang Mamah ucapkan padaku.
“Yang sabar Mam, Mamah khan bisa telpon Babah”
“Mamah masih cinta sama Babahmu, sama kamu dan Ayna juga Al, tapi Mamah pengen kayak Rabiah yang tak mencintai apapun kecuali Allah”
Mamah tetap saja mengulang- ulang kalimat itu, meski jawabannya tak sesuai dengan apa yang ku tanyakan sebelumnya, bahkan ucapan mamah tadi dapat disimpulkan bahwa mamah ingin meninggalkan Babah, aku dan Ayna untuk menyatukan cinta pada Allah, “Agak ngawur sih Mamah, mungkin karena udah tua ya, aku jadi makin kasihan sama Mamah” desahku dalam hati.
“Bukan hanya Mamah yang merindukan Babah, Al dan Ayna juga kangen Mam”. Tanpa terasa airmataku meleleh merindukan sesosok lelaki tegar yang meninggalkan kami ke Negeri Piramid Mesir untuk berkarir sebagai staf Duta Besar RI untuk Mesir di Kairo. Sesosok lelaki yang memberiku nama Alfan Zaar dan adikku Ayna Thalita itu sejak enam tahun yang lalu membantu Pak Dubes. “Kami merindukannya, Ya Allah sampaikanlah perasaan kami padanya” mohonku di kedalaman hati pada Sang Pemilik Alam.
Kerinduanku pada Mamah saja belum terobati, baru kemarin aku mendarat di sini setelah wisuda sarjanaku di Jogja, kini Babah kembali menghampiriku membawa sejuta harapan dan kerinduan. Namun itu hanyalah angan belaka, Babah penuh dengan kesibukan di Kairo, hingga tak hadir dalam acara pengokohanku sebagai sarjana. Tapi tak apalah, aku masih bersama paruh jiwaku, Mamah dan Ayna.
* * *
Hari libur untuk adikku Ayna yang masih mencicipi bangku ketiga SMA telah tiba. “Minggu” begitulah kira- kira tutur tanggal berwarna merah itu. Aku, Ayna dan Mamah sedang hanyut dalam kebersamaan di ruang makan. Sehabis menyantap sarapan, aku, mamah dan Ayna berbalas kata- kata. Mamah yang memulai dialog terlebih dahulu, akupun awalnya bisa menebak apa yang akan dikatakan mamah, tapi entahlah, akan ku dengarkan sejenak gerak bibirnya. Aku terkejut bukan main!
“Tadi malam Mamah mimpi Babahmu Al, Na”
“Ah Mam, itu mungkin cuma akibat Mamah berlebihan mikirin Babah”
“Insting Mamah ke Babah kuat banget Al, Babahmu bilang mau pulang ke Indonesia”.
Aku dan Ayna tersenyum bahagia mendengar tutur kata Mamah, “Semoga terwujud, Amin!”
Tiba- tiba pembicaraan kami bertiga terputus oleh dering nada telepon dari ruang keluarga, biasanya Bi Irah yang mengangkatnya, tapi Bi Irah hari minggu libur, Ayna langsung berdiri menuju ruang keluarga, ia raih gagang telepon dan bercakap pelan. Selang beberapa menit, Ayna tampak di pintu ruang makan dengan sisa tetes lava mata, Ayna terdiam membisu, air matanya semakin menderas, irama isak tangisnya menggema. Aku dan Mamah teramat penasaran, ingin mendengar ucapan hati Ayna. Ku beranikan diri lisanku bertanya pada Ayna.
“Ada apa Na, kok nangis?”
“Mimpi mamah benar Mam, Kak. Babah akan dipulangkan besok pagi ke Indonesia,” jawabnya gemetar.
“Haah? Dipulangkan? Ada apa dengan Babah, Na?”
“Ya Kak, babah wafat di Rumah Sakit di Kairo selepas subuh tadi, besok sore akan dimakamkan, Kedubes yang mau menanggung semuanya” isak tangisnya semakin menggema gaung ketika mengucapnya.
Suasana bahagia hilang memudar tak bersisa, suasana sunyi, dengan diwarnai isak tangis berirama yang mengganti keadaan. Aku sempatkan lidah kakuku berucap menguatkan keteguhan jiwa Mamah.
“Sabar Mam” ucapku simpel bercampur melodi isak tangis.
“Mamah pengen kayak Rabiah yang tak membagi cintanya pada selain Allah, tapi Mamah masih mencintai Babah dan kalian berdua. Mamah jauh dari Rabiah Al, Na. Hati Rabiah bukan hati biasa”
“Mam, jangan buat kami semakin pedih menangis Mam, Al mohon”
Tiba- tiba Ayna berniat untuk menghibur Mamah dengan membaca sajak- sajak ilahiah Rabiah penuh dengan penghayatan. Namun Mamah membalasnya dengan kata memelaskan yang sama seperti yang ia tuturkan barusan, “Cukup Na, Mamah jauh dari Rabiah. Hati Rabiah bukan hati biasa”.
Ku jadikan Engkau teman bercakap dalam Hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk.
Jisimku biar bercengkrama dengan Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpa-Mu
Kubus Imajinasi Lubsel, 21012011, 07.27
Jumat, 26 Agustus 2011
MERUNTUHKAN KOLOTISME; UPAYA MENATAP MASA DEPAN PESANTREN
Di Abad 21 yang dikenal dengan abad tekhnologi dan informasi menuntut banyak orang untuk berfikir tepat dan kritis. Hal itu terbukti dengan menjamurnya tekhnologi dan informasi yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Hal itu tidak hanya menggurita dalam kehidupan perkotaan melainkan tekhnologi dan informasi telah merambat kedaerah pedesaan bahkan kesebuah lembaga pendidikan islam yaitu pesantren.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis agama dan sampai saat ini eksistensi pesantren masih diperhitungkan oleh kebanyakan masyarakat karna pesantren sudah banyak andil dalam membangun bangsa dan negara seutuhnya baik dari segi intelektual, emosional, dan spiritual. Selain itu pesantren sudah banyak berjasa terhadap negara kita tercinta karna termasuk dari orang-orang yang mengusir dari imperialisme dan kolonialisme adalah para kaum sarungan. Ketika sudah demikian, benarkah orang-orang yang berdomisili pesantren termasuk orang-orang konserfatif dan kolot?
Saat ini sudah banyak animo yang berkembang dimasyarakat khususnya masyarakat perkotaan yang notabene, materialisme dan konsumerisme menganggap dalam dua pemahaman, Pertama, masyarakat pesantren dipahami sebagai kelompok yang semata-mata belajar agama dan kitab-kitab klasik tanpa peduli dengan masalah sosial dan perkembangan dunia modern. Kedua, dunia santri dan pesantren divonis sebagai dunia yang tertutup dan penuh keterbatasan sehingga asumsi masyarakat non pesantren terhadap dunia pesantren menganggap konserfatif dan kaku.
Pesantren yang telah berjasa mencerdaskan anak bangsa bertahun-tahun lamanya, sekarang dipandang sebuah momok menakutkan. Banyak masyarakat sudah anti yang namanya pesantren. Padahal cibiran mereka tanpa sebuah alasan yang jelas dan masyarakat seakan-akan tidak sadar, sekarang bukan zamannya bertanya kerja apa dan dimana, karena dari data survei menyatakan bahwa ribuan sarjana dari berbagai jurusan menganggur, dan kiranya kita perlu menyimak keterangan Bapak Mendiknas M. Nuh “…Kita optomis Indonesia tidak akan kekurangan guru hingga 2015 karena jumlah PNS yang dimiliki pemerintah masih berlebihan ditandai dengan rasio jumlah murid dan guru yang masih relatif besar, yakni satu guru untuk 14 siswa sedangkan rasio yang ideal adalah satu guru untuk 20 siswa. Lalu apakah menjadi seorang guru berstatus PNS merupakan satu-satunya lahan subur yang masih tersisa di
Untuk mengikis ketakutan akan pesantren, kiranya perlu diperjelas bahwa sebuah ilmu pengetahuan dalam islam sangat dijunjung tinggi. Anda bisa menyimak QS. Ali Imran: 18 “Allah menyatakan bahwasanya tiada tuhan melainkan dia (yang berhak disemba), yang menegakkan keadilan.
Kemudian, apakah semua ilmu bisa mengantarkan kita untuk menggapai derajat itu? Dalam firman Allah QS. An-Nahl: “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” dalam ayat ini nampak jelas bahwa yang dimaksud orang-orang berilmu adalah mereka yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan Kitab-kitab, dalam kata lain adalah paham syari’at islam.
Dengan kenyataan dunia perekonomian seperti sekarang ini, tentu kita tidak pantas jika berasumsi ataupun memvonis terhadap dunia pesantren menganggap konserfatif dan prospek suram bagi lulusan pesantren. Oleh sebab itu kita tidak kuasa untuk memvonis suram ataukah terang hari esok. Kita hanya mampu berusaha dan usaha akang-akang santri di pesantren bukanlah hal yang sia-sia.
Terakhir, sampai kapanpun pesantren akan terus berguna bagi masyarakat sekitar. Buktinya sampai sekarang pesantren tetap eksis dan bertebaran diseluruh nusantara selain itu pesaantren berhasil mencetak output yang mempunyai integritas dan kapabilitas yang memadai. Mungkin karna prospek yang terlalu silau, membuat mata-mata biasa tidak sanggup melihatnya.
Jumat, 22 Januari 2010
Bila Malam Bersabda
Hati kan melapangkan selapang-lapangnya
Teringat segala kesalahan….
Yang berharap dibasuh maaf
Bila malam bersujud……
Mata kan melelehkan lava penyesalan
Teringat semua dosa……
Yang berharap ditutupi oleh cahaya ilahi
Bila malam menyendiri……..
Fikiran kan menalar
Teringat segala kejadian….
Yang bernilai pahala ataukah dosa
Bila malam bercinta…….
Hati kan memerah
Teringat segala kebahagiaan…..
Yang berharap tak bernilai dosa
Bila malam berhajat……..
Jiwa raga kan mengharap
Segala keinginan…….
Yang berharap terkabulkan
Dan bila malam bersabda……..
Hati pendengaran kan mendengar
Terhadap segala kejadian………..
Yang ku harap selalu benar di mata-Nya
Antara Pembuktian Performa Madura atau Penghapusan Budaya
Pada awalnya saya berpikir bagaimana Madura bisa terkenal jika masih banyak kalangan yang tak sependapat dengan budaya yang dimiliki Madura, karena Madura ini adalah pulau yang kaya akan segalanya, kekayaan alam, kekayaan budaya, kekayaan adat keagamaan, kekayaan bahasanya dan masih banyak lainnya. Maka sepantasnya lah saat ini Madura menentukan jalan hidupnya untuk lebih maju, tetapi pada saat ini Madura berada dalam zona pertengahan, alias nangghung di antara keagamaan ataukah kebudayaan, karena Madura sendiri tidak mematok target kuat apakah akan menonjolkan tradisi keagamaannya, ataukah akan menunjukkan performa kekayaan budayanya pada dunia luar? Dan juga bisa dikatakan bahwa Madura hanya mematok target yang setengah-setengah, mana bisa lebih maju dalam waktu yang tidak lama, karena menurut pandangan saya, pertama-tama Madura harus memiliki satu keunggulan yang sangat tinggi kualitasnya, pada saat ini Madura memanglah memiliki banyak keunggulan, tetapi keunggulan itu diadu semua, jadi kapan Madura dapat membuktikan performanya 100%?







